Postingan

Makhluk itu bernama Tetangga

Ada salah satu makhluk unik yang tinggal hanya beberapa meter dari pintu rumahku. Mereka tidak digaji oleh negara, namun bekerja lebih keras daripada intelijen manapun. Makhluk itu bernama: Tetangga. Entah apa yang ada di dalam kepala mereka. Apakah hidup mereka begitu hambar sehingga harus membumbui hari-harinya dengan sisa-sisa urusanku? Bagiku, rumah adalah tempat pelarian dari dunia yang bising. Namun bagi mereka, rumahku adalah panggung teater yang harus mereka tonton dari balik gorden, atau sekadar dari balik pagar sambil pura-pura menyapu halaman. "Sudah pulang?" "Beli apa itu?" "Kok tumben telat?" "Di gaji berapa kerja disitu? Pertanyaan-pertanyaan itu bukan basa-basi. Itu adalah " interogasi berbalut senyum palsu." Mereka merasa memiliki hak akses atas jadwal hidupku, isi kantong belanjaanku, hingga siapa saja yang bertamu ke rumahku. Kedamaian yang susah payah aku bangun di dalam ruang pribadiku, seketika buyar hanya karena tatapa...

Mensholati Gerhana Kesombongan

Ada sebuah ironi yang puitis tentang "gerhana". Sebuah fenomena di mana matahari sebagai sumber cahaya raksasa yang menghidupi tata surya tiba-tiba meredup dan tertutup untuk sementara. Bukan karena matahari kehilangan sinarnya, melainkan karena bulan yang wujudnya ribuan kali lebih kecil, bergeser dan menghalangi pandangan bumi. Bulan bisa menutupi matahari semata-mata karena ia berada terlalu dekat dengan mata kita. Begitupula mekanisme cara kerja kesombongan di dalam dada manusia. Kebenaran, kebijaksanaan, dan empati adalah matahari yang terang benderang. Namun, ketika ego yang kemudian di ibaratkan sebagai (bulan) kita letakkan terlalu dekat dengan mata hati, ia akan menghalangi semua cahaya itu. Kita menjadi buta. Kita merasa besar, merasa paling terang, dan merasa paling berhak atas segala hal. Padahal, yang terjadi sebenarnya hanyalah sebuah ilusi optik spiritual. Kita tidak sedang membesar; kita hanya sedang menghalangi cahaya kita sendiri. Kesombongan adalah kegelapa...

Bukan Pelaku Yang Amatiran

Ruangan itu terlalu rapi untuk sebuah insiden yang baru saja terjadi. Tidak ada pecahan kaca di lantai, tidak ada jejak sepatu berdebu, dan tidak ada barang yang berserakan tanpa alasan. Seolah-olah, apa pun yang baru saja terjadi di tempat ini tidak meninggalkan jejak fisik, melainkan menguap begitu saja bersama hembusan udara malam. Orang awam mungkin akan melihatnya sebagai sebuah kebetulan atau nasib baik. Namun, bagi mata yang terlatih, kesunyian dan kerapian ini adalah sebuah "tanda tangan". Seorang amatir akan bertindak berdasarkan emosi. Mereka didorong oleh adrenalin, kepanikan, dan ketakutan akan ketahuan. Saat rencana sedikit bergeser, seorang amatir akan merespons dengan gegabah. Mereka akan meninggalkan sidik jari di gagang pintu, jejak keringat karena gugup, barang yang terjatuh, dan pola pikir yang mudah ditebak. Seorang amatir masuk untuk membuat kekacauan. Namun, pemandangan di ruangan ini bercerita tentang hal yang sama sekali berbeda. Ia tahu persis apa yan...

Diambang Lelah Menempuh Jalanmu

Tuhan... "Jika langkah ini gontai dan napas ini diambang kehabisan, jangan engkau biarkan aku berbalik arah. Biarkan merangkak, biarkan terseret, asal tujuanku tetaplah Engkau"

Cukup Engkau Doakan

Hujan membasahi bumi sore itu, membasuh dedaunan dan menyisakan aroma tanah basah yang menenangkan. Di sudut ruang yang remang, seorang ibu duduk termenung, jemarinya perlahan mengusap bingkai foto yang usang. Di sana, senyum seorang pemuda terbingkai rapi, membawa serta kenangan yang tak lekang oleh waktu. Anaknya, buah hati yang telah lama pergi merantau, jauh di negeri seberang. Kabar tak selalu datang secepat angin, dan rasa rindu seringkali menjelma gelombang yang menghantam dada. Terkadang, sang ibu merasa sendirian, menanggung beban kerinduan yang berat. Ia ingin tahu apakah anaknya baik-baik saja, apakah ia makan teratur, apakah ia bahagia di sana. Namun, jarak membentang luas, memisahkan raga dan membatasi kata. Suatu hari, sang anak menelepon. Suaranya terdengar lelah, namun tetap berusaha terdengar ceria. "Ibu, bagaimana kabar Ibu di sana?" tanyanya lembut. Sang ibu menahan napas, berusaha agar suaranya tak bergetar. "Alhamdulillah, Ibu baik-baik saja, Nak. Ka...

Setetes Embun di Tengah Rimba Peradaban

Kacamata dunia hari ini sering kali terjebak dalam obsesi terhadap skala. Kita merayakan sesuatu hanya jika ia megah, masif, dan seluas samudera. Dalam diskursus sosial, budaya, etnis, hingga politik, kita cenderung mencari solusi-solusi makro yang terkadang melupakan hakikat kemanusiaan yang paling mendasar. Padahal, jika kita menilik lebih dalam, keutuhan sebuah bangsa tidak selalu dijahit oleh kebijakan-kebijakan raksasa, melainkan oleh "setetes embun kasih" yang lahir dari rahim ketulusan. Dalam keberagaman etnis dan lapisan sosial, gesekan adalah keniscayaan. Namun, konflik sering kali meruncing karena kita kehilangan ketulusan dalam memandang "yang lain." Kita melihat sesama bukan sebagai manusia, melainkan sebagai kategori atau statistik. Ketulusan adalah jembatan yang melampaui sekat-sekat kelas. Ia tidak hadir dalam bentuk asimilasi paksa yang luas, tetapi dalam tindakan-tindakan kecil: Seorang tetangga yang menjaga rumah saat kita mudik, kemudian senyum t...

Bercumbu Rayu Denganmu "Lailatul Qadar"

Membicarakan Lailatul Qadar sering kali kita terjebak dalam romantisme angka dan kalkulasi matematis. Kita sibuk menghitung: "Satu malam sama dengan seribu bulan, berarti sekitar 83 tahun." Seketika, ibadah kita berubah menjadi perburuan bonus besar-besaran, sebuah transaksi logika yang kadang melupakan esensi dari sebuah perjumpaan. Padahal, jika kita selami tajuknya, menanti Lailatul Qadar seharusnya lebih mirip dengan fase "bercumbu rayu" dengan sebuah proses pendekatan yang penuh debar, usaha memantaskan diri, dan kerinduan yang puncaknya adalah penyatuan spiritual. Ada sebuah alasan mengapa malam ini disembunyikan. Jika ia datang dengan jadwal yang pasti seperti gajian bulanan, kita mungkin akan menjadi hamba yang pragmatis. Kita hanya akan mengetuk pintu Tuhan saat jadwal "pembagian hadiah" tiba. Bercumbu dengan Lailatul Qadar tidaklah dilakukan begitu saja hanya dengan diam berpangku tangan. Ia adalah gerak aktif dalam kesunyian. Saat dunia terlela...