Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2026

Makhluk itu bernama Tetangga

Ada salah satu makhluk unik yang tinggal hanya beberapa meter dari pintu rumahku. Mereka tidak digaji oleh negara, namun bekerja lebih keras daripada intelijen manapun. Makhluk itu bernama: Tetangga. Entah apa yang ada di dalam kepala mereka. Apakah hidup mereka begitu hambar sehingga harus membumbui hari-harinya dengan sisa-sisa urusanku? Bagiku, rumah adalah tempat pelarian dari dunia yang bising. Namun bagi mereka, rumahku adalah panggung teater yang harus mereka tonton dari balik gorden, atau sekadar dari balik pagar sambil pura-pura menyapu halaman. "Sudah pulang?" "Beli apa itu?" "Kok tumben telat?" "Di gaji berapa kerja disitu? Pertanyaan-pertanyaan itu bukan basa-basi. Itu adalah " interogasi berbalut senyum palsu." Mereka merasa memiliki hak akses atas jadwal hidupku, isi kantong belanjaanku, hingga siapa saja yang bertamu ke rumahku. Kedamaian yang susah payah aku bangun di dalam ruang pribadiku, seketika buyar hanya karena tatapa...

Mensholati Gerhana Kesombongan

Ada sebuah ironi yang puitis tentang "gerhana". Sebuah fenomena di mana matahari sebagai sumber cahaya raksasa yang menghidupi tata surya tiba-tiba meredup dan tertutup untuk sementara. Bukan karena matahari kehilangan sinarnya, melainkan karena bulan yang wujudnya ribuan kali lebih kecil, bergeser dan menghalangi pandangan bumi. Bulan bisa menutupi matahari semata-mata karena ia berada terlalu dekat dengan mata kita. Begitupula mekanisme cara kerja kesombongan di dalam dada manusia. Kebenaran, kebijaksanaan, dan empati adalah matahari yang terang benderang. Namun, ketika ego yang kemudian di ibaratkan sebagai (bulan) kita letakkan terlalu dekat dengan mata hati, ia akan menghalangi semua cahaya itu. Kita menjadi buta. Kita merasa besar, merasa paling terang, dan merasa paling berhak atas segala hal. Padahal, yang terjadi sebenarnya hanyalah sebuah ilusi optik spiritual. Kita tidak sedang membesar; kita hanya sedang menghalangi cahaya kita sendiri. Kesombongan adalah kegelapa...

Bukan Pelaku Yang Amatiran

Ruangan itu terlalu rapi untuk sebuah insiden yang baru saja terjadi. Tidak ada pecahan kaca di lantai, tidak ada jejak sepatu berdebu, dan tidak ada barang yang berserakan tanpa alasan. Seolah-olah, apa pun yang baru saja terjadi di tempat ini tidak meninggalkan jejak fisik, melainkan menguap begitu saja bersama hembusan udara malam. Orang awam mungkin akan melihatnya sebagai sebuah kebetulan atau nasib baik. Namun, bagi mata yang terlatih, kesunyian dan kerapian ini adalah sebuah "tanda tangan". Seorang amatir akan bertindak berdasarkan emosi. Mereka didorong oleh adrenalin, kepanikan, dan ketakutan akan ketahuan. Saat rencana sedikit bergeser, seorang amatir akan merespons dengan gegabah. Mereka akan meninggalkan sidik jari di gagang pintu, jejak keringat karena gugup, barang yang terjatuh, dan pola pikir yang mudah ditebak. Seorang amatir masuk untuk membuat kekacauan. Namun, pemandangan di ruangan ini bercerita tentang hal yang sama sekali berbeda. Ia tahu persis apa yan...