Cukup Engkau Doakan
Hujan membasahi bumi sore itu, membasuh dedaunan dan menyisakan aroma tanah basah yang menenangkan. Di sudut ruang yang remang, seorang ibu duduk termenung, jemarinya perlahan mengusap bingkai foto yang usang. Di sana, senyum seorang pemuda terbingkai rapi, membawa serta kenangan yang tak lekang oleh waktu.
Anaknya, buah hati yang telah lama pergi merantau, jauh di negeri seberang. Kabar tak selalu datang secepat angin, dan rasa rindu seringkali menjelma gelombang yang menghantam dada. Terkadang, sang ibu merasa sendirian, menanggung beban kerinduan yang berat. Ia ingin tahu apakah anaknya baik-baik saja, apakah ia makan teratur, apakah ia bahagia di sana. Namun, jarak membentang luas, memisahkan raga dan membatasi kata.
Suatu hari, sang anak menelepon. Suaranya terdengar lelah, namun tetap berusaha terdengar ceria. "Ibu, bagaimana kabar Ibu di sana?" tanyanya lembut.
Sang ibu menahan napas, berusaha agar suaranya tak bergetar. "Alhamdulillah, Ibu baik-baik saja, Nak. Kamu bagaimana? Apakah semua lancar di sana?"
Ada jeda sejenak. "Iya, Bu, alhamdulillah. Sedikit sibuk saja," jawab anaknya, mencoba meyakinkan. Namun, sang ibu tahu, ada sesuatu yang tak terucap. Naluri keibuan tak pernah salah.
"Nak," kata sang ibu pelan, "Ibu tahu kamu kuat. Ibu tahu kamu mandiri. Ibu tidak bisa banyak membantumu dari sini. Tidak bisa memasak makanan kesukaanmu saat kamu lelah, tidak bisa memelukmu saat kamu sedih." Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Tapi, satu hal yang bisa Ibu lakukan, satu hal yang selalu Ibu lakukan untukmu..."
Sang anak di seberang sana terdiam, mendengarkan dengan saksama.
"Cukup engkau doakan, Nak," lanjut sang ibu, suaranya kini lebih mantap. "Cukup doakan Ibu di setiap sujudmu. Doakan agar Ibu selalu sehat, agar Ibu bisa selalu mendoakanmu dari sini. Dan Ibu, di setiap detik, di setiap napas, akan selalu mendoakanmu. Doa Ibu adalah perisaimu, Nak. Doa Ibu adalah bekalmu. Doa Ibu adalah penguatmu di perantauan."
Kata-kata itu menembus relung hati sang anak. Bukan harta, bukan bantuan materi, melainkan sebuah kekuatan yang tak terlihat, namun nyata adanya. Sebuah janji yang tulus dari lubuk hati seorang ibu.
Sejak saat itu, sang anak merasa bebannya sedikit terangkat. Ia tahu, meskipun jauh, ia tak pernah sendirian. Ada sepasang tangan yang selalu menengadah, ada sepasang bibir yang tak henti menyebut namanya dalam doa. Dan ia, dengan sepenuh hati, membalasnya. Setiap kali ia merasa lelah, setiap kali ia merasa ragu, ia ingat kata-kata ibunya. Ia mengambil wudu, menundukkan kepala, dan berbisik, "Ya Allah, lindungilah ibuku. Berkahilah ibuku."
Doa, sesederhana itu, namun memiliki kekuatan yang luar biasa. Ia adalah jembatan yang menghubungkan hati, penerang dalam kegelapan, dan penawar rindu yang paling ampuh. Bagi seorang anak yang jauh di perantauan, tak ada yang lebih berharga daripada mengetahui bahwa ada seseorang di rumah yang selalu setia mendoakannya.
Oleh:
Muchamad. Alfin Khoirudin
Komentar
Posting Komentar