Makhluk itu bernama Tetangga
Ada salah satu makhluk unik yang tinggal hanya beberapa meter dari pintu rumahku. Mereka tidak digaji oleh negara, namun bekerja lebih keras daripada intelijen manapun. Makhluk itu bernama: Tetangga.
Entah apa yang ada di dalam kepala mereka. Apakah hidup mereka begitu hambar sehingga harus membumbui hari-harinya dengan sisa-sisa urusanku? Bagiku, rumah adalah tempat pelarian dari dunia yang bising. Namun bagi mereka, rumahku adalah panggung teater yang harus mereka tonton dari balik gorden, atau sekadar dari balik pagar sambil pura-pura menyapu halaman.
"Sudah pulang?"
"Beli apa itu?"
"Kok tumben telat?"
"Di gaji berapa kerja disitu?
Pertanyaan-pertanyaan itu bukan basa-basi. Itu adalah "interogasi berbalut senyum palsu." Mereka merasa memiliki hak akses atas jadwal hidupku, isi kantong belanjaanku, hingga siapa saja yang bertamu ke rumahku. Kedamaian yang susah payah aku bangun di dalam ruang pribadiku, seketika buyar hanya karena tatapan penuh selidik dan bisik-bisik di tukang sayur keesokan harinya.
Sungguh melelahkan. Rasanya ingin sekali aku pasang papan pengumuman besar di depan rumah: "Hidupku bukan konten untuk bahan gosipmu."
Padahal ada garis tipis di dalam tataran norma hidup ini antara bertetangga dan mengusik. Sayangnya, makhluk-makhluk ini sepertinya buta warna sehingga tidak bisa melihat garis itu. Mereka lupa bahwa memiliki pintu rumah masing-masing, artinya ada batasan yang tidak boleh dilewati tanpa izin.
Kepada tetanggaku yang terhormat:
"Uruslah tanaman di tempurungmu masing-masing, obatilah penyakit kepo yang konon menghadapi tanduk kritis itu, dan Berhentilah menjadi sutradara di hidup orang lain, karena jujur, muak rasanya menjadi objek rasa penasaranmu yang tak berujung itu."
Oleh: Muchamad. Alfin Khoirudin
Komentar
Posting Komentar