Bercumbu Rayu Denganmu "Lailatul Qadar"
Membicarakan Lailatul Qadar sering kali kita terjebak dalam romantisme angka dan kalkulasi matematis. Kita sibuk menghitung: "Satu malam sama dengan seribu bulan, berarti sekitar 83 tahun." Seketika, ibadah kita berubah menjadi perburuan bonus besar-besaran, sebuah transaksi logika yang kadang melupakan esensi dari sebuah perjumpaan.
Padahal, jika kita selami tajuknya, menanti Lailatul Qadar seharusnya lebih mirip dengan fase "bercumbu rayu" dengan sebuah proses pendekatan yang penuh debar, usaha memantaskan diri, dan kerinduan yang puncaknya adalah penyatuan spiritual.
Ada sebuah alasan mengapa malam ini disembunyikan. Jika ia datang dengan jadwal yang pasti seperti gajian bulanan, kita mungkin akan menjadi hamba yang pragmatis. Kita hanya akan mengetuk pintu Tuhan saat jadwal "pembagian hadiah" tiba.
Bercumbu dengan Lailatul Qadar tidaklah dilakukan begitu saja hanya dengan diam berpangku tangan. Ia adalah gerak aktif dalam kesunyian. Saat dunia terlelap, ada sebuah mekanisme dialog-dialog bisu yang meluncur dari hamparan sajadah. Di titik inilah, doa bukan lagi daftar belanjaan keinginan duniawi, melainkan bisikan mesra seorang hamba yang mengaku fakir di hadapan Sang Kaya. Kita merayu Tuhan dengan pengakuan dosa, kita memuji-Nya dengan asma' yang paling indah, dan kita memohon agar "kedamaian sampai terbit fajar tiba" itu benar benar meresap ke dalam pori-pori jiwa yang selama ini gersang.
Ketika malam itu tiba entah kita menyadarinya atau tidak melalui tanda-tanda alam ada sebuah ketenangan yang tak terbeli turun menyelimuti bumi. Itulah saat di mana "Salam" (kedamaian) bukan lagi sekadar ucapan, melainkan sebuah pelukan gaib yang merasap hingga ke sumsum tulang. Pada puncaknya, perjumpaan ini tidak lagi menyisakan "aku" dan "kamu", melainkan kepasrahan total diri kita. Kita tidak lagi meminta surga atau takut neraka; kita hanya ingin dilihat dengan pandangan kasih oleh-Nya. Itulah esensi daripada yang disebut-sebut sebagai seribu bulan: satu momen keintiman yang nilainya melampaui seluruh masa hidup manusia yang sia-sia tanpa kehadiran-Nya.
Ketika seseorang benar-benar "bercumbu" dengan malam mulia ini, dampaknya tidak berhenti saat matahari terbit. Indikator kesuksesannya bukan pada berapa banyak rakaat yang sanggup ditegakkan, melainkan pada perubahan rasa.
"Barangsiapa yang diharamkan baginya kebaikan malam itu, maka benar-benar ia telah diharamkan dari kebaikan seluruhnya."
Lailatul Qadar yang berhasil dirayu akan meninggalkan jejak berupa kelembutan hati, lisan yang terjaga, dan jiwa yang lebih tenang menghadapi gemuruhnya pasar dunia. Ia bukan sekadar peristiwa kalender, melainkan transformasi batin.
sepuluh malam terakhir Ramadhan bukanlah perlombaan lari cepat untuk mereka yang sekadar haus pahala, melainkan sebuah "itikaf hati" bagi mereka yang sedang dilanda asmara ilahi. Kita mulai menanggalkan jubah keduniawian yang sesak, mencoba tampil paling rapi dan paling tulus di hadapan-Nya.
Maka, di sisa malam-malam ganjil ini, mari kita berhenti menjadi pemburu yang ambisius dan mulailah menjadi perindu yang tulus. Rayulah malam itu dengan istighfar yang paling dalam dan sujud yang paling lama. Karena pada akhirnya, Lailatul Qadar hanya akan "bercumbu" dengan mereka yang hatinya telah siap untuk menerima cahaya.
Setelah malam itu berlalu, aroma "perjumpaannya" seharusnya tetap tinggal di pakaian akhlak kita sehari-hari. Karena kekasih yang benar-benar telah bertemu pujaan hatinya, akan berjalan dengan cara yang berbeda, lebih lembut, lebih bijak, dan lebih penuh cinta.
Oleh:
Muchamad. Alfin Khoirudin
Komentar
Posting Komentar