Mensholati Gerhana Kesombongan
Ada sebuah ironi yang puitis tentang "gerhana". Sebuah fenomena di mana matahari sebagai sumber cahaya raksasa yang menghidupi tata surya tiba-tiba meredup dan tertutup untuk sementara. Bukan karena matahari kehilangan sinarnya, melainkan karena bulan yang wujudnya ribuan kali lebih kecil, bergeser dan menghalangi pandangan bumi. Bulan bisa menutupi matahari semata-mata karena ia berada terlalu dekat dengan mata kita.
Begitupula mekanisme cara kerja kesombongan di dalam dada manusia. Kebenaran, kebijaksanaan, dan empati adalah matahari yang terang benderang. Namun, ketika ego yang kemudian di ibaratkan sebagai (bulan) kita letakkan terlalu dekat dengan mata hati, ia akan menghalangi semua cahaya itu. Kita menjadi buta. Kita merasa besar, merasa paling terang, dan merasa paling berhak atas segala hal. Padahal, yang terjadi sebenarnya hanyalah sebuah ilusi optik spiritual. Kita tidak sedang membesar; kita hanya sedang menghalangi cahaya kita sendiri.
Kesombongan adalah kegelapan sementara yang kita ciptakan sendiri, sebuah gerhana di mana aku merampas tempat kita.
Ketika gerhana alam terjadi, tradisi dan spiritualitas kita mengajarkan untuk tidak bersorak, apalagi menatapnya dengan pongah. Kita diajarkan untuk merunduk, melabuhkan dahi ke atas tanah, dan mensholatinya.
Shalat gerhana bukanlah ritual untuk memuja kegelapan, melainkan sebuah pengakuan jujur akan betapa kecilnya kita di hadapan semesta, seraya memohon agar Sang Pemilik Cahaya sudi mengembalikan terang yang sempat hilang.
Lantas, bagaimana dengan gerhana kesombongan yang rutin terjadi di dalam diri kita? Saat jabatan, harta, pujian, dan gelar membuat kita merasa berhak merendahkan orang lain?
Mungkin, inilah saatnya kita untuk "mensholati" kesombongan diri kita masing-masing dan membawa diri kita untuk membedah isi kepala dan bertanya dengan jujur: Terbuat dari apakah kehormatan yang mati-matian aku pertahankan ini? Ini adalah panggilan untuk kembali bersujud tidak hanya secara fisik, tetapi sujudnya hati dan pikiran. Menyadari bahwa semua atribut yang melekat di badan hanyalah pakaian pinjaman yang suatu saat akan dilucuti oleh waktu.
Orang yang berani mensholati kesombongannya adalah mereka yang paham bahwa tidak ada yang abadi di bawah kolong langit. Mereka menundukkan pandangan saat berada di puncak, bukan karena takut jatuh, tetapi karena sadar bahwa puncak tertinggi sekalipun masih berpijak pada bumi yang sama dengan lembah yang paling dalam. Singkirkan ego dari depan mata, dan biarkan cahaya kerendahan hati kembali menyinari ruang-ruang gelap di dalam jiwa.
Sebab, "manusia tidak dikenang dari seberapa besar bayangan yang ia ciptakan saat ia menghalangi cahaya, melainkan dari seberapa hangat pelita yang ia nyalakan untuk orang lain".
Oleh: Muchamad Alfin Khoirudin
Komentar
Posting Komentar