Berpuasa Tanpa Bayang-Bayang Atribut
Di bawah jeritan terik matahari yang sama, perut yang sedang lapar tidak pernah bertanya apa pangkatmu. Dahaga yang mencekik tidak peduli pada merek pakaian yang melekat di tubuhmu. Di sinilah, letak dimanan pendalaman madrasah ramadan dimulai, kita diajak untuk meluruhkan atribut yang sejatinya sama sekali tidak diperlukan.
Seringkali, kita terlalu sibuk untuk mematut diri dengan gelar, jabatan, dan pandangan manusia, hingga ibadah kita terasa berat oleh beban ekspektasi. Sehingga, berpuasa tanpa bayang-bayang atribut adalah salah satu solusi untuk memerdekaan diri secara hakiki. Ia adalah saat di mana seorang raja dan jelata duduk di atas sajadah yang sama, merasakan perih yang serupa, dan menengadahkan tangan dengan kehinaan yang setara.
Berjalan menuju Ibadah yang "Sunyi", Ketika atribut dilepaskan, yang tersisa hanyalah kejujuran.Yakni "Tanpa Tepuk Tangan": Kita tidak lagi berpuasa agar dianggap saleh oleh tetangga, "Tanpa Sekat Jabatan": Kita menyadari bahwa di hadapan lapar, semua manusia hanyalah hamba yang ringkih, "Tanpa Hiasan Topeng Sosial": Ibadah menjadi ruang privat antara rahasia niat dan pengawasan Tuhan.
Puasa yang sejati tidak butuh panggung. Ia adalah perjalanan ke dalam diri, mencari titik nol di mana ego dihancurkan hingga lumat hancur, sehancur-hancurnya. Saat bayangan atribut itu memudar, barulah cahaya keikhlasan mempunyai mandat ruang untuk masuk ke dalam.
"Puasa adalah sunyi yang paling bising; bising dengan percakapan antara ruh dan Penciptanya, tanpa perlu perantara nama besar atau kemegahan dunia."
Dan disaat tempo alunan bedug maghrib bertalu, seteguk air yang membasahi kerongkongan rasanya sama nikmatnya bagi siapa saja. Karena di hadapan Tuhan, "kita tidak dinilai dari apa yang kita pakai, melainkan dari seberapa tulus kita berserah tanpa embel-embel apa pun."
Oleh: Muchamad. Alfin Khoirudin
Komentar
Posting Komentar